Sabtu, 26 Desember 2009


Mengenang Semangat Dan Perjuangan Para Perempuan

Jakarta, KPN.

Waita Dalam setiap sendi kehidupan, kita tak terlepas dari peran dan sentuh wanita. Peran wanita sangat beragam dalam kehidupan. Ia bisa menjadi seorang ibu yang pengasih dan penyayang, tapi juga bisa sekaligus menjadi sosok kokoh untuk dijadikan tempat bersandar keluarganya.

Konon, sejarah Hari Ibu yang jatuh setiap tanggal 22 Desember, dimulai pada tahun 1928 di Yogyakarta. Pada awalnya hari itu diperingati sebagai upaya untuk mengenang semangat dan perjuangan para perempuan dalam upaya perbaikan kualitas bangsa. Namun dari sana, kita bisa bercermin bahwa sebenarnya, wanita yang selalu diidentikkan dengan kelemahlembutan sebenarnya memiliki daya untuk mengubah suatu hal jika mereka mau berupaya. Bahkan wanita memiliki daya untuk mengubah bahkan menggerakkan suatu hal yang besar, contohnya, perekonomian negara kita.

Rommy Haryanto, dari Peduli Perempuan, pada acara The Surviving Female Peddlers Photo Exhibition, (17/12), Plaza Senayan, Jakarta, mengatakan, bahwa sebenarnya dua per tiga kontribusi ekonomi negeri kita berasal dari wanita. Namun sayangnya, dampaknya tidak terlalu terasa karena pekerjaan mereka tidak diakui. Di mulai dari yang terkecil, misal, di pedesaan, yang didominasi petani wanita, nama mereka tidak tercantum dalam koperasi, ataupun hasil kerja mereka menuai panen tumbuh-tumbuhan tidak diekspos. Padahal hasil kerja mereka itu kemudian menggerakkan roda ekonomi kita.

Kurangnya ekspos dan pengakuan bahwa wanita masa kini sudah memiliki kekuatan dan memiliki kemampuan untuk melakukan perubahan-perubahan kecil mendorong banyak pihak untuk mendorong para wanita agar lebih berkarya. Seperti yang dilakukan oleh Tupperware beberapa waktu, lewat acara yang mereka beri nama Tupperware She Can! Award yang dilakukan pada pertengahan Desember 2009 lalu di Hotel Indonesia Kempinski.

Acara ini merupakan sebuah penganugerahan penghargaan kepada 38 wanita Indonesia yang dinilai inspiratif. Para wanita ini telah melewati berbagai seleksi untuk bisa mendapatkan penghargaan tersebut. Para wanita-wanita ini dianggap mampu menginspirasi banyak orang karena kemampuan mereka yang mencerahkan, mengedukasi, dan memberdayakan orang sekitar untuk mewujudkan impian-impian mereka. Sebut saja, Yayuk Basuki, Waldjinah, Ligwina Hananto, Alberthiene Endah, Anne Avantie, dan wanita-wanita Indonesia yang namanya mungkin belum banyak terekspos media, namun peran karya mereka memiliki dampak tersendiri di sekitarnya. Mereka mendapatkan penghargaan karena kemauan dan usaha mereka untuk melakukan perubahan. Mereka adalah wanita-wanita Indonesia yang membuktikan bahwa ketika seorang wanita mau berupaya, mereka bisa.

Sementara, pesan bahwa wanita memang memiliki peran dan “warna” yang unik dalam hidup ini dan bisa menjadi seorang agen perubahan disebarkan oleh Unilever dalam acaranya yang bertajuk Warna Warni Kasih Ibu di Grand Indonesia Shopping Town. Pada peresmian dibukanya acara ini, Kamis (17/12) lalu, Okty Damayanti, Customer Development Director mengatakan, “Bahwa jika kita menginginkan adanya perubahan di masyarakat, maka mulailah dari wanita. Karena, perjuangan ibu adalah tanpa pamrih, dan mereka melakukannya dengan hati.

Wanita juga memiliki peran yang besar dalam segala hal di kehidupan kita. Tanpa sadar, sentuh mereka bisa mengubah banyak hal, dimulai dari keluarga.” Dalam acara yang berlangsung dari tanggal 17-27 Desember 2009 ini, Unilever mengapresiasi para bunda dengan menggelar pameran 100 lukisan karya 37 pelukis berusia 4-80 tahun dari Rumah Belajar dan Rumah Lukisku. Lukisan-lukisan yang menggambarkan bagaimana wanita menginspirasi para pelukis ini kemudian akan dilelang, kemudian hasilnya akan disalurkan ke Yayasan Dian Nusantara (yayasan yang membantu anak jalanan) (tim).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar